DAYNEWS.ID, MAKASSAR — Suasana haru menyelimuti kawasan depan Stadion Mattoanging saat alat berat mulai merobohkan lapak-lapak pedagang kaki lima (PKL) yang selama puluhan tahun menjadi tempat mencari nafkah warga.
Pemerintah Kecamatan Mariso menertibkan sebanyak 178 lapak PKL di empat kelurahan pada Rabu (13/5/2026). Penertiban ini menjadi salah satu langkah besar Pemerintah Kota Makassar dalam menata kawasan perkotaan agar lebih tertib dan nyaman.
Namun di balik penataan tersebut, tersimpan kisah emosional para pedagang lama yang harus merelakan tempat usahanya dibongkar.
Salah satu cerita yang paling menyita perhatian datang dari seorang pedagang ikan bakar di depan Stadion Mattoanging. Pria berusia 53 tahun itu diketahui telah membantu orang tuanya berjualan sejak masih SMP.
Artinya, lebih dari 40 tahun hidupnya dihabiskan di lapak sederhana tersebut.
“Dia sudah jualan sejak muda sekali. Itu yang membuat banyak warga ikut merasa iba,” ujar salah seorang warga di lokasi.
Camat Mariso, Andi Syahrir Mappatoba, menegaskan penertiban dilakukan setelah melalui prosedur panjang dan pendekatan persuasif kepada pedagang.
“Sudah tiga kali diberikan surat teguran dan tambahan waktu pembongkaran 2×24 jam. Alhamdulillah sebagian besar membongkar sendiri,” katanya, Kamis (14/5/2026).
Dari total 178 lapak yang ditertibkan, sebanyak 55 lapak berada di Kelurahan Mariso, 54 di Panambungan, 46 di Kunjung Mae, dan 23 di Kelurahan Mario.
Meski sebagian besar dibongkar mandiri, sejumlah bangunan permanen harus dihancurkan menggunakan alat berat dari Dinas PU Makassar karena struktur beton yang kuat.
Penertiban juga sempat diwarnai klaim kepemilikan lahan oleh salah satu pemilik lapak di Jalan Nuri. Pemerintah kecamatan memastikan akan melakukan verifikasi sebelum mengambil langkah lanjutan.
“Kami tetap mengedepankan pendekatan humanis dan memastikan semua sesuai aturan,” jelas Syahrir.
Operasi penertiban ini melibatkan Satpol PP Kota Makassar, Satpol PP Provinsi Sulsel, aparat TNI-Polri, Satlinmas, hingga unsur RT dan RW setempat.
Meski berlangsung aman dan tertib, kisah para pedagang yang kehilangan lapak setelah puluhan tahun bertahan kini ramai menjadi perbincangan warga di media sosial. (*/dn)
