DAYNEWS.ID, JAKARTA — Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi topik panas di media sosial setelah nilai tukar menembus Rp17.600 per dolar AS. Kondisi tersebut dinilai membawa dua sisi berbeda bagi masyarakat Indonesia.
Sebagian warga mulai khawatir karena harga barang berpotensi naik, sementara sebagian lainnya melihat ada peluang keuntungan dari kondisi tersebut.
Bagi masyarakat yang gemar membeli produk impor, pelemahan rupiah jelas menjadi tantangan. Harga iPhone, laptop, kamera, hingga konsol game diprediksi ikut naik karena transaksi internasional menggunakan dolar AS.
Tidak hanya barang elektronik, beberapa bahan pangan impor dan obat-obatan tertentu juga berpotensi mengalami kenaikan harga.
Dampak lainnya mulai dirasakan pelaku usaha kecil yang bergantung pada bahan baku impor. Biaya produksi meningkat dan membuat margin keuntungan semakin menipis.
Namun di balik tekanan itu, ada sektor yang justru menikmati keuntungan besar.
Pelaku ekspor menjadi salah satu pihak yang paling diuntungkan saat rupiah melemah. Produk Indonesia menjadi lebih murah di pasar internasional sehingga peluang penjualan meningkat.
Industri hasil laut, kopi, kakao, furnitur, hingga produk UMKM yang menembus pasar luar negeri diperkirakan bisa mendapatkan keuntungan lebih tinggi.
Sektor wisata juga ikut terdorong. Turis asing memiliki daya beli lebih besar ketika berkunjung ke Indonesia karena nilai tukar dolar lebih kuat dibanding rupiah.
Sebaliknya, masyarakat Indonesia yang ingin bepergian ke luar negeri kini harus menyiapkan anggaran lebih besar untuk tiket, hotel, dan biaya hidup.
Pengamat ekonomi menilai situasi ini sebenarnya bisa menjadi momentum memperkuat produk lokal dan mengurangi ketergantungan terhadap barang impor.
Meski rupiah melemah, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup kuat selama konsumsi masyarakat tetap berjalan dan pemerintah mampu menjaga stabilitas pasar.
Karena itu, masyarakat diminta lebih bijak mengatur pengeluaran dan mulai memprioritaskan penggunaan produk dalam negeri di tengah tekanan ekonomi global. (*/dn)
